Tampilkan postingan dengan label Bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bayi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Oktober 2014

BUNDA harus tau imunisasi apa saja untuk buah hati :)

IMUNISASI WAJIB

Sebagai usaha pencegahan terjangkitnya bayi dari penyakit yang berbahaya, sejak 1977 pemerintah Indonesia mencanangkan program imunisasi untuk setiap bayi di Indonesia, disebut program imunisasi wajib, yakni imunisasi yang harus diberikan pada anak sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Nah, berikut ini imunisasi yang wajib diberikan kepada bayi.

1. Imunisasi BCG
Bertujuan mencegah penyakit TB (tuberkulosis). Bisa diberikan sejak bayi baru lahir, namun paling efektif saat bayi usia 1—2 bulan. Imunisasi BCG diberikan sekali dan tak perlu diulang (kecuali kalau gagal), antibodi akan terus ada seumur hidup. Diberikan dengan cara disuntikkan menyusur kulit, umumnya di lengan kanan atas. Satu-dua bulan setelah disuntik terdapat luka kecil yang tak jarang hingga bernanah. Jangan khawatir karena itu merupakan tanda pemberian imunisasi BCG berhasil, selain munculnya benjolan kecil. Apabila tak muncul benjolan, imunisasi harus diulang sebelum anak berusia 1 tahun.
Selain karena cara penyuntikan yang salah, imunisasi bisa gagal (tidak jadi) lantaran daya tahan tubuh anak kurang bagus atau anak kurang gizi. Tubuh anak yang kurang gizi atau daya tahannya tidak bagus, tidak akan mampu membuat zat-zat tertentu yang dibutuhkan untuk membuat zat anti. Umumnya imunisasi BCG tidak menyebabkan efek samping, yang terjadi adalah pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya akan sembuh sendiri.

2. Imunisasi Hepatitis B
Bertujuan mencegah kerusakan hati. Diberikan sebanyak 3 kali, suntikan pertama pada 12 jam setelah kelahiran, suntikan kedua saat usia 1 bulan, suntikan ketiga di usia 6 bulan. Pada anak, suntikan diberikan intramuskuler di lengan, sementara pada bayi lewat anterolateral paha. Bila ibu terbukti mengidap hepatitis B, diberikan imunisasi tambahan dengan imunoglobulin anti hepatitis B sebelum 24 jam, selanjutnya bayi mendapat imunisasi hepatitis B pada 24 jam setelah lahir, jadwal berikutnya sama dengan anak lain.
Meski sangat jarang, pada beberapa anak mungkin akan muncul keluhan nyeri di bekas suntikan yang disertai demam ringan. Jangan khawatir karena reaksi ini akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 1—2 hari. Imunisasi ini tidak dapat diberikan pada anak yang sedang sakit berat. Pada ibu hamil, imunisasi ini bisa diberikan dengan keuntungan ganda, selain melindungi ibu, juga melindungi janin selama dalam kandungan maupun bayi sampai beberapa bulan setelah lahir.

3. Imunisasi DPT
Bertujuan mencegah penyakit difteri, pertusis, tetanus (DPT). Imunisasi ini diberikan sebanyak 5 kali. DPT I sampai III harus diberikan sebelum bayi berusia setahun, umumnya di usia 2 bulan (DPT I), usia 4 bulan (DPT II), dan usia 6 bulan (DPT III). Berikutnya, DPT IV diberikan di usia 18 bulan dan DPT V di usia 5 tahun. Kemudian, di usia 12 tahun, anak bisa mendapat suntikan TT (Tetanus Toksoid).
Setelah imunisasi DPT, reaksi yang umum terjadi, anak akan merasa tangan/kaki pegal, kelelahan, kurang nafsu makan, muntah, rewel, dan demam. Ada yang demamnya biasa, namun pada beberapa anak muncul demam tinggi (37,5°C—40°C). Orangtua tak perlu khawatir karena demam ini akan turun dalam waktu 1—2 hari setelah diberikan obat penurun demam. Akan tetapi, kalau setelah 2 hari tak kunjung turun atau anak mempunyai riwayat kejang, segera bawa ke dokter. Bisa juga memilih menggunakan vaksin DPT asesuler dengan dampak efek samping demam lebih minimal, terutama bagi yang punya riwayat kejang. Imunisasi DPT tidak boleh diberikan pada anak dengan riwayat epilepsi.

4. Imunisasi Polio
Sesuai dengan namanya, imunisasi polio bertujuan mencegah penyakit polio. Imunisasi polio diberikan dengan cara suntikan (Inactived Poliomyelitis Vaccien/IPV) atau melalui mulut (Oral Poliomyelitis Vaccien/OPV). Khusus untuk di Indonesia, imunisasi polio hanya diberikan dengan cara oral. Imunisasi polio diberikan 6 kali; pertama diberikan saat lahir, selanjutnya di usia 2, 4, dan 6 bulan. Selepas usia bayi, diberikan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Biasanya diberikan berbarengan dengan imunisasi DPT.
Meskipun jarang muncul efek samping, tetapi pada beberapa anak ada yang mengalami Paralitik Poliomyelitis (Vaccine Associated Paralytic Poliomyelitis/VAPP) yaitu lumpuh layuh akut yang terjadi pada 4—40 hari setelah diberikan vaksin OPV. Saat ini telah tersedia vaksin polio inaktif (IPV), berupa suntikan mengandung virus polio yang dimatikan, sehingga aman diberikan tanpa ada risiko lumpuh layuh (VAPP). Bahkan, boleh diberikan pada anak dengan gangguan sistem kekebalan tubuh (immunocompromize) sekalipun.
Imunisasi polio OPV berupa virus hidup tidak boleh diberikan bila anak dalam keadaan demam (38,5°C), ada penyakit akut, muntah, diare, sedang menerima pengobatan kortikosteroid, pengobatan radiasi umum, penyakit kanker/keganasan, penderita HIV/AIDS. Intinya, imunisasi polio aman diberikan, belum ada dalam literatur anak yang meninggal karena imunisasi polio.

5. Imunisasi Campak
Bertujuan mencegah penyakit campak, diberikan 2 kali pada usia 9 bulan dan 6 tahun. Penentuan usia 9 bulan berdasar pertimbangan di usia tersebut antibodi dari ibu sudah menurun. Bila sampai usia 12 bulan anak belum mendapat imunisasi campak, maka direkomendasikan untuk mendapat imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella).
Bila anak sudah pernah terkena campak, tubuh akan membentuk antibodi secara alami sehingga kecil kemungkinan akan terpapar lagi. Campak hanya akan menyerang sekali seumur hidup, kalau ada yang mengatakan berulang, bisa jadi diagnosis sebelumnya kurang tepat. Karenanya anak yang sudah pernah terkena campak tak perlu diimunisasi lagi. Bahkan, imunisasi MMR untuk anak usia 6 tahun mensyaratkan belum pernah terkena campak sebelumnya; kalau sudah, tidak perlu diberikan.
Umumnya tidak ada efek samping yang ditimbulkan dari imunisasi ini, namun pada beberapa anak muncul reaksi demam atau diare. Biasanya demam ringan satu minggu setelah imunisasi dan akan hilang setelah 1—2 hari. Kadang ada juga efek kemerahan selama 3 hari, mulai hari ke-7 setelah imunisasi. Bercak kemerahan ini seperti campak tapi jauh lebih ringan. Untuk mengatasi reaksi tersebut bisa dengan banyak minum, memakai baju yang tipis atau minum obat turun panas.

Apakah sikecil tidur dengan nyenyak??

 

 

 

 

Gaya Tidur Bayi yang Perlu Diperbaiki

Catnapper atau Tidur Kucing
Beberapa bayi ada yang waktu tidurnya tidak panjang. Hanya sekitar 30 sampai 45 menit saja tetapi sering. Tidak hanya tidur kucing, mereka juga punya jadwal tidur yang tidak bisa diprediksi. Akibatnya orang tua sibuk mengurusi bayinya yang sering bangun yang berujung pada pekerjaan rumah menjadi tertunda.
Cara mengatasi: Kasus tidur kucing ini memang tidak umum. “Banyak bayi yang tidur kucing sebanyak tiga atau empat kali sehari sampai usia mereka 9 atau 10 bulan. Itu masih batas normal,” kata ahli kesehatan anak masalah tidur Jodi Mindell, PhD. dan pengarang buku Sleeping Through the Night. Jangan kaget bila bayi yang awalnya tidur lama kemudian esoknya tidur sebentar tapi sering. Hal itu akan menjadi rutin pada bayi usia dibawah 1 tahun. “Bayi yang terbiasa tidur kucing akan tidur selama satu setengah atau dua jam setelah tidur yang terakhir,” kata Mindell. Jika mau bayi Anda punya jadwal tidur yang teratur, bangunkan dia pada waktu yang sama setiap pagi (kira-kira pukul 7.30). Tidurkan si kecil dua jam kemudian. Jangan sampai si bayi mengusap matanya atau rewel sebelum tidur. Itu tandanya ia terlalu lelah.

Bayi bangun terlalu cepat
Kristen Napoleon biasa membangunkan anaknya Jamey sebelum matahari terbit. “Awalnya saya sangat senang karena anak saya tidak rewel saat dibagunkan,” kata ibu dari Pittsburgh. “Tapi saya pikir kasihan juga harus bangun pagi buta.”
Cara mengatasi: Bayi normal bangun tidur pukul 5 atau 6 pagi. “Jika Anda menidurkannya pada pukul 6 atau 7 malam, maka ia akan tidur semalaman penuh,” kata Mindell. Melambatkan waktu tidur 15 menit kadang bisa membantu si kecil tidak bangun pagi buta. Coba bangunkan anak Anda pada tengah malam, nyalakan lampu agak terang, atau bicara dengan nada pelan tapi bisa didengar. Tengok apakah bayi Anda merasa terusik atau tidak. Jika tidak berarti malaikat kecil Anda tidurnya nyenyak. Biarkan ia bangun sendiri.

Bayi Tidur Pilih Tempat
Anak ketiga Mary Elena biasa tidur di mobil saat mengantarkan anak pertamanya les piano. Begitu sampai di rumah anaknya tidak mau tidur sama sekali. Parahnya, saat bepergian anak Mary ini pernah tidur di mobil sepuluh menit. Begitu sampai tujuan ia tidak mau tidur lagi. Sementara Anak Cathy Hale punya masalah sebaliknya. Anaknya selalu tidur di rumah. “Saya memang melatihnya supaya betah tidur di rumah sejak lahir. Kata ibu tiga anak ini. “Tapi akibatnya saya jadi tidak bisa keluar malam karena harus menemaninya tidur.”
Cara mengatasi: “Bayi yang tidur pilih-pilih tempat karena dibiasakan. Bukannya bawaan lahir,” kata Psikolog anak Ethan Benore, PhD. “Orang tua biasanya secara tidak sengaja mengajarkan bayi untuk menjadi pemilih,” lanjutnya. “Misalkan Anda biasanya menepok-nepok bokong anak Anda saat tidur. maka sampai ia agak besar akan terbiasa dan kebiasaan itu sulit diubah.” Jika mau bayi Anda tidur di rumah, maka Anda harus membuatnya menjadi prioritas. Gunakan segala cara untuk membuat rumah menjadi tempat yang nyaman untuk tidur si kecil.
Buat bayi yang tidak mau tidur dimana pun selain rumah, tak terlalu masalah. Pergi dan menginaplah di tempat saudara atau hotel sepekan seklai untuk membuatnya terbiasa tidur di tempat yang baru. Sepekan sekali cobalah tidurkan bayi Anda pada pagi hari, dan cobalah membuatnya terjaga setelah setelah pukul 7 malam. Jika Anda harus pergi ke luar rumah pada malam hari, jangan bungkus si kecil dengan bungkusan yang nyaman. Hal itu akan membuatnya tidak tidur.

Bayi yang Tidurnya Mudah Terganggu
Suara akan membuat bayi Anda tidak bisa tidur nyenyak. Kucing lewat, bunyi klakson atau sinar matahari yang menembus jendela pasti akan membuatnya bangu dll.
perhatikan kenyamanan tidur bayi anda ya bunda,,agar malaikat kecil anda merasa tenang dan nyenyak :)

semoga bermanfaat..

Jumat, 01 November 2013

Bounding Attachment


Bounding Attachment


" SAYANGILAH BUAH HATI ANDA"
Karna Sebuah Ksih Sayang akan Mempengaruhi Pribadi nya :)

Pengertian Bounding Attachment

  1. Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayisecara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir.
  2. Nelson (1986), bounding: dimulainya interaksi emosisensorik fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir,attachment: ikatan yang terjalin antara individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi danfisik yang akrab.
  3. Saxton dan Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir; attachment: adalah interaksiantara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.
  4. Bennet dan Brown (1999), bounding:  terjadinya hubungan antara orang tua dan bayi sejak awal kehidupan, attachment: pencurahan kasih sayang di antara individu.
  5. Brozeton (dalam Bobak, 1995): permulaan saling mengikat antara orang-orang seperti antaraorang tua dan anak pada pertemuan pertama.
  6. Parmi (2000): suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi lahir.
  7. Perry (2002), bounding: proses pembentukan attachment atau membangun ikatan;attachment: suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan kualitas-kualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.
  8. Subroto (cit Lestari, 2002): sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orang tua dan bayi.
  9. Maternal dan Neonatal Health: adalah kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelahproses persalinan, dimulai pada kala III sampai dengan post partum.
  10. Harfiah, bounding: ikatan; attachment: sentuhan.

Tahap-Tahap Bounding Attachment

  1. Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, erbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
  2. Bounding (keterikatan)
  3. Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.
Menurut Klaus, Kenell (1982), bagian penting dari ikatan ialah perkenalan.

Elemen-Elemen Bounding Attachment

  1. Sentuhan – Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasitubuh bayi dengan ujung jarinya.
  2. Kontak mata – Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata,orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, 1982).
  3. Suara – Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting.Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.
  4. Aroma – Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, 1985).
  5. Entrainment – Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orangdewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulaiberbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.
  6. Bioritme – Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.
  7. Kontak dini – Saat ini , tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tua–anak.
Namun menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini :
  1. Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat.
  2. Reflek menghisap dilakukan dini.
  3. Pembentukkan kekebalan aktif dimulai.
  4. Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth (kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi hormonal).

Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment

  1. Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).
  2. Sentuhan orang tua pertama kali.
  3. Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.
  4. Kesehatan emosional orang tua.
  5. Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.
  6. Persiapan PNC sebelumnya.
  7. Adaptasi.
  8. Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.
  9. Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.
  10. Fasilitas untuk kontak lebih lama.
  11. Penekanan pada hal-hal positif.
  12. Perawat maternitas khusus (bidan).
  13. Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.
  14. Informasi bertahap mengenai bounding attachment.

Keuntungan Bounding Attachment

  1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.
  2. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.

Hambatan Bounding Attachment

  1. Kurangnya support sistem.
  2. Ibu dengan resiko (ibu sakit).
  3. Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).
  4. Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.

Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 63-65)
Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. (hlm: 54-55). books.google.co.id/books?id=ZkPup-5Ozy8C&pg=PA54&lpg=PA54&dq=pengertian+bounding+attachment&source=….
Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 64-66).
Telli, L. Bounding Attachment. Diunduh 15 Januari 2010, 10:15 PM. akbidypsdmi.net/download/pdf/asuhan26.pdf
Image, babyphotospictures.com

Jumat, 11 Oktober 2013

Seputar tentang refleks bayi



KOGNITIF DAN REFLEKS BAYI

15.52, by nofitriana







KOGNITIF BAYI..

Perkembangan kognitif adalah proses kefahaman kanak-kanak mengenai dunia berubah mengikut tahap umur dan pengalaman ( Feldman 1994).Teori-teori kognitif ini cuba menerangkan tentang peningkatan intelek dari segi kualiti dan kuantiti yang berlaku semasa perkembangan.

Teori perkembangan kognitif piaget mencadangkan terdapat 4 tahap perkembangan bagi kanak-kanak.Piaget berpendapat setiap tahap berbeza dari segi kuantiti informasi, kualiti pengetahuan dan kefahaman. Piaget juga berpendapat perubahan dari satu peringkat ke peringkat seterusnya menyebabkan kanak-kanak akan mencapai tahap kematangan yang sesuai. Hal ini disebabkan kanak-kanak telah terdedah dengan pelbagai jenis pengalaman yang relevan.

4 jenis tahap tersebut ialah :
-Tahap yang pertama : tahap sensorimotor ( dari lahir hingga 2 tahun)
-Tahap kedua : tahap praoperasi (2-7 tahun)
-Tahap ketiga : tahap operasi konkrit ( 7-12 tahun)
-Tahap keempat : Tahap operasi format ( 12 tahun hingga dewasa)

Perkembangan kognitif bayi bagi tahap sensorimotor :
Mata neonat mempunyai keupayaan yang terhad untuk menukar bentuk dan sukar untuk memfokus objek yang jauh melebihi 7-8 inci daripada muka mereka. Namun, mereka boleh mengikut objek yang bergerak dalam lingkungan pandang ( Feldman 1994).

Fenomena Habituasi.
Satu teknik penting ialah mengukur perubahan dalam kadar degupan jantung bayi kerana kadar tersebut berkorelasi dengan tindak balas bayi terhadap rangsangan yang dilihatnya. Habituasi adalah pengurangan kadar tindak balas rangsangan-rangsangan yang berulang kali. Contohnya, Jika bayi ditunjukkan sesuatu rangsangan yang baru, mereka akan memberi perhatian sepenuhnya dan kadar degupan jantung meningkat kemudian bertukar kepada normal. Jika ini berlaku maka habituasi berlaku pada seseorang bayi.
Neonat dikatakan mampu membezakan ekspresi muka, malah boleh menirunya. Penglihatan neonat berkembang cepat selepas lahir. Pada penghujung bulan pertama, bayi boleh membezakan warna, pada umur 4 bulan mereka boleh fokus objek yang jauh dan juga dekat. Manakala 4 atau 5 bulan umur mereka, bayi mampu mengenal objek-objek 2 atau 3 dimensi.
Selain itu, keupayaan pendengaran bayi. Neonat dapat mengenal suara ibunya selepas 3 hari dilahirkan. Mereka juga boleh membezakan rasa-rasa dan bau yang berlainan pada umur yang awal.
Pada tahap sensorimotor, bayi mampu untuk berinteraksi dengan persekitaran dengan menggunakan imej, bahasa atau simbol-simbol lain. Mereka juga dapat mengetahui tentang pengekalan objek, iaitu mereka tidak sedar bahawa manusia masih tetap wujud walaupun tidak dapat dilihat dengan mata kasar. Namun, selepas umur 9 bulan, mereka lebih aktif seperti boleh mencari barang yang disembunyikan.
Perkembangan kognitif bayi pada tahap sensorimotor dapat dibahagikan kepada 6 tahap :

TAHAP PERTAMA (0-1 BULAN)
Perkembangan kognitif bayi seperti :
-Menghisap susu ibu
-Mengikut pergerakan objek yang bergerak dengan mata
-Menutup tapak tangan apabila disentuhkan dengan objek

TAHAP KEDUA (1 BULAN- 4 BULAN)
Perkembangan kognitif bayi seperti :
-Bayi tetap melakukan skima menghisap walaupun tiada botol
-Percubaan bayi untuk menghasilkan suasana yang menarik atau selesa.
Contoh : bayi menghisap jarinya apabila diletakkan berhampiran dengan mulutnya.
-Reaksi pasif berlaku akibat classical atau operant conditioning

TAHAP KETIGA (4-8 BULAN)
Perkembangan kognitif bayi seperti :-
-Dikenali sebagai reaksi pusingan sekunder di mana bayi menjadi lebih berorentasikan luaran (objek). Mereka mula meneroka kaedah untuk menghasilkan suasana yang menarik.
-mengenggam kuat objek yang diingini
-Mula menggunakan logik

TAHAP KEEMPAT (9-12 BULAN)
Perkembangan kognitif bayi seperti :
-Mengkordinasikan reaksi pusingan sekunder, seperti menggabungkan dan skima-skima asal dan bertingkah laku dengan niat.
-Perkembangan logik dan kordinasi antara makna dan tujuan
Mula mempunyai orentasi matlamat
-Dikenali juga ` The first proper of intelligent ’

TAHAP KELIMA (12-18 BULAN)
Dikenali juga sebagai reaksi pusingan ketiga, keaslian dan ingin tahu. Antara perkembangan kognitif bayi seperti :
-Mempelbagaikan skema untuk menghasilkan kesan yang baru
-Meneroka makna-makna yang baru untuk mencapai matlamat
-Mula menjadi saintis muda
-Melakukan eksperimen olok-olok untuk mencari jalan bagi menyelesaikan masalah

TAHAP KEENAM (18-24 BULAN)
Menginternalisasikan skima. Antara perkembangan kognitif bayi seperti :
-Mereka mula celik akal dan mempunyai kreativiti tersendiri
-Boleh berfikir secara simbolik
-Beralih dari tahap pemikiran sensorimotor tulen kepada tahap pemikiran simbolik.
-Bersedia untuk beralih kepada tahap pre-operational stage.

REFLEKS BAYI…
Selalunya kita mengganggap bahawa bayi yang baru lahir tidak menarik kerana hidup mereka hanya untuk makan, tidur dan menangis sahaja. Hal ini, disebabkan oleh bayi tidur selama 16-21 jam sehari dan bertindak balas secara terhad .
Terdapat beberapa pantulan atau refleks bayi seperti :
I. Mengelipkan mata
II. Babinski
III. Grasping (mengenggam)
IV. Moro ( startle)
V. Rooting ( mecari punca)
VI. Stepping ( melangkah/menapak)
VII. Sucking
VIII. Berenang
IX. Tonic Neck

I- Apabila cahaya lampu atau angin mengenai mata bayi, mereka akanmengelipkan mata serta menutup kedua-dua matanya sebagai respon. Tindak balas ini akan kekal.
II- Apabila tapak kaki bayi diusap, bayi memberi respon seperti jari kaki akan dikuit keluar dan memusingkan kaki ke dalam. Rasa geli ini dipanggilrefleks Babinski.
III- Refleks Grasping (menggenggam) adalah apabila tapak tangan disentuh bayi akan menggenggam kuat sebagai responnya. Ini akan hilang selepas 9 bulan hingga 1 tahun.
IV- Refleks Moro (startle) ialah refleks terperanjat.Bayi akan terkejut apabila mendengar bunyi kuat atau terjatuh. Mereka akan tersentak, kepala digerakkan ke belakang, membuka lengan dan kaki serta segera merapatkan semula dengan badan. Ini akan hilang selepas 3-4 bulan.
V- Refleks Rooting ( mencari punca). Apabila pipi diusap atau bahagian sebelah mulut disentuh, bayi akan memusingkan kepala, membuka mulut untuk menghisap. Ia akan hilang selepas 3-4 bulan.
VI- Refleks stepping (melangkah/menapak). Apabila kita merendahkan kakinya serta disentuhkan ke lantai, bayi akan bertindak balas seperti menggerakkan kakinya seperti mahu berjalan. Keadaan ini akan hilang selepasa 3-4 bulan.
VII- Refleks sucking. Apabila objek disentuhkan ke mulut , bayi akan menghisap secara automatik dan akan hilang selepas 3-4 bulan.
VIII- Refleks berenang. Apabila bayi diletakkan dalam kedudukan meniarap di dalam air, Mereka akan bertindak balas seperti membuat kordinasi pergerakan renang. Keadaan ini akan hilang selepas 6-7 bulan.
IX- Refleks Tonic Neck. Jika bayi dibaringkan, bayi akan membentuk genggaman pada kedua belah tangan dan memusingkan kepalanya ke kanan ( dikenali sebagai `fencer’s pose`) kerana bayi seakan-akan dalam keadaan bermain pedang. Ini akan hilang selepas 2 bulan.

* Kebanyakan daripada gerakan-gerakan pantulan ini akan hilang selepas beberapa bulan umur dan akan diganti dengan tingkah laku yang lebih komplek terorganisasi. Contohnya, semasa umur bayi 3 bulan, mereka sudah boleh bergolek, dapat duduk dengan sendiri semasa 6 bulan, berdiri pada umur 11 atau 12 bulan dan berjalan selepas berumur 1 tahun. Selain itu, pergerakan otot halus juga menjadi semakin canggih. 

LOTUS BIRTH



Plasenta merupakan toko darah bagi bayi yang mengandung sel-sel induk, besi, oksigen, hormon dan enzim. 1/3 dari total suplai darah bayi berasal dari plasenta yang dialirkan melalui tali pusat.

Pengertian Kelahiran Lotus (Lotus Birth)
Setelah bayi lahir, tali pusat yang melekat pada bayi dan plasenta dibiarkan, tanpa dijepit atau dipotong, dan membiarkan tali pusat terlepas dari bayi secara alami. Tali pusat dan plasenta merupakan satu unit dan satu kesatuan yang membentuk bayi. Umumnya tali pusat terlepas secara alami dua atau tiga hari setelah kelahiran.

Plasenta yang baru dilahirkan biasanya mengeluarkan cairan, pada kelahiran Lotus, cairan itu di tampung dan disimpan di dalam waskom atau mangkuk, selanjutnya didekatkan pada bayi. Kain yang digunakan untuk menutupi plasenta haruslah memungkinkan terjadinya pertukaran udara, sehingga plasenta tidak berbau busuk dan menjadi kering. Ada yang menggunakan garam laut untuk mempercepat proses pengeringan plasenta. Kadang-kadang ada yang mengoleskan minyak esensial, seperti lavender atau bubuk tumbuh-tumbuhan seperti goldenseal, neem, dicampurkan dengan lavender sebagai anti bakteri. Kalau pengeringan plasenta tidak dilakukan secara baik, maka plasenta akan mengeluarkan bau tidak sedap. Bau tersebut dapat diatasi dengan penanaman plasenta secara langsung atau didinginkan (menyimpan dalam lemari es) setelah minggu pertama pasca persalinan. Kelahiran Lotus jarang dilakukan di rumah sakit. Lebih sering terjadi pada persalinan di rumah dan pusat-pusat kelahiran Lotus.

Sejarah Lotus Birth
Negara perintis Lotus birth adalah Amerika. Lotus birth dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi bayi dari infeksi luka yang terbuka. Meskipun Lotus birth ini merupakan suatu fenomena yang baru, tapi penundaan pemotongan tali pusat sudah ada dalam budaya Bali dan budaya suku Aborigin Australia. Dan keputusan Lotus birth serta dampak fisiologis yang dapat terjadi merupakan tanggung jawab dari klien yang telah memilih dan membuat keputusan tersebut.

Primatolog Jane Goodall, adalah orang pertama untuk melakukan apapun studi jangka panjang dari simpanse di alam bebas Pada hewan Simpanse, yang merupakan mamalia dengan 99% bahan genetik hampir sama dengan manusia, juga pada prakteknya membiarkan plasenta utuh, tidak merusaknya bahkan memotongnya. Hal itu dikenal dengan fakta primatologis. Beberapa praktisi kelahiran teratai simpanse merujuk kepada praktek sebagai latihan alami bagi manusia juga.

Informasi mengenai lotus birth ini terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, Kristen serta Yahudi.
Di Tibet dan Zen Buddhisme, istilah "kelahiran teratai" digunakan untuk menggambarkan para guru spiritual seperti Buddha Gautama dan Padmasambhava (Lien Sen-hua), menekankan mereka masuk ke dunia sebagai utuh, anak-anak kudus. Kelahiran referensi teratai juga ditemukan dalam Hinduisme, misalnya dalam kisah kelahiran Wisnu.

Sampai sekarang belum ada penelitian lebih lanjut mengenai penyakit kuning dan kehilangan berat badan bayi karena tindakan Lotus birth.

Penghormatan terhadap plasenta di berbagai budaya
Beda bangsa, daerah dan suku beda pula penanganannya terhadap keberadaan ari-ari atau plasenta yang hadir ketika persalinan terjadi. Dalam dunia pengobatan barat, plasenta dianggap tidak lebih dari sekedar buangan rumah sakit, tapi mengakui adanya penanganan khusus yang diberlakukan di berbagai belahan dunia.

Diantara suku Navajo Indian barat daya, menjadi suatu kebiasaan untuk menguburkan plasenta bayi di keempat sudut kuburan keluarga yang dianggap mulia, sebagai suatu pengikat tanah leluhur dan masyarakat . Sementara suku Maori di Selandia Baru memiliki tradisi yang sama yaitu menguburkan plasenta di tanah yang masih belum tercemar. Dalam bahasa asli Maori kata untuk tanah dan plasenta tersebut adalah :whenua (baca: venua).

Suku pedalaman Bolivian Aymara dan Queche meyakini bahwa plasenta memiliki spirit tersendiri. Karenanya seorang suami harus memperlakukan plasenta tersebut dengan mencuci dan menguburkannya pada tempat yang terlindung dan tersembunyi. Jika ritual tersebut tidak dilakukan secara benar, keyakinan mereka adalah ibu atau bayi akan menjadi sakit atau bahkan mati.

Suku Ibo di Negiria dan Ghana memperlakukan plasenta sebagai kembaran dari bayi yang hidup, sementara plasenta tersebut adalah kembaran yang mati. Sehingga harus dikuburkan dengan ritual tertentu. Lain lagi di Filipina, plasenta dikuburkan dengan berbagai macam buku oleh ibunya. Ini suatu pengharapan bahwa kelak bayinya akan tumbuh menjadi anak yang pintar . Kondisi Filipina ternyata tidak berbeda jauh dengan beberapa masyarakat yang ada di Indonesia, dimana mereka menguburkan plasenta dilengkapi dengan buku, pensil dengan maksud agar kelak anak yang dilahirkan tersebut menjadi anak yang pintar.

Ironis lagi di Vietnam dan China plasenta disiapkan untuk dikonsumsi oleh ibu yang habis melahirkan. Masyarakat china dan Vietnam mempercayai, bahwa ibu yang baru melahirkan seharusnya merebus sendiri plasenta bayinya, kemudian dijadikan kaldu dan meminumnya untuk memperbaiki kualitas ASI nya.

Sementara di nusantara Indonesia, Ari-ari atau plasenta sering dianggap sebagai saudara bayi yang memeliharanya selama kehamilan berlangsung, bahkan tidak jarang plasenta mendapat perhatian khusus sesuai dengan adat kebiasaaan masyarakat yang berlaku. Sebagian masyarakat memperlakukan plasenta (ari-ari) dengan tatalaksana khusus, sebagai ungkapan terimakasih karena telah memelihara bayi sampai cukup bulan serta lahir ke dunia.
Perlakuan masyarakat Bali (beragama Hindu) terhadap ari-ari.
1. Setelah dibersihkan dimasukkan ke dalam kelapa yang telah di belah, sebagai lambang dunia dan isinya.
2. Diisi duri-duri, sehingga terhindar dari gangguan, ditambahkan rempah-rempah, dan diberi wewangian agar harum dan tidak berbau.
3. Di bungkus kain putih dan di tanam di depan rumah; sebelah kanan untuk laki-laki, sedangkan sebelah kiri untuk perempuan.
4. Selama 42 hari selalu di pasang lilin (malam hari), setiap hari ari-ari tersebut diberikan susu juga.

Perlakuan masyarakat Jawa terhadap ari-ari
1. Setelah ari-ari dibersihkan dimasukkan ke dalam kendi.
2. Di dalam kendi disertakan tulisan jawa/Abjad agar kelak nantinya bayi tersebut pandai.
3. Diberikan anget-anget dan duri sehingga pandangannya tajam.
4. Selanjutnya di tanam di depan rumah untuk bayi laki-laki selama 42 hari, dan di belakang rumah selama 36 hari untuk bayi perempuan.
5. Sebagian ada yang membuangnya ke sungai , sehingga bayi ini akan suka merantau.

Perlakuan masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap ari-ari
1. Ditaruh sekitar 3 bulan di atas perapian sampai kering.
2. Selanjutnya di tanam di sertai doa dan alat-tulis.

Alasan mengapa Lotus Birth dipilih:
Setiap ibu memiliki alasan sendiri. Berikut ini adalah beberapa alasan ibu untuk memilih Lotus Birth:
1.Ibu dan keluarga tidak ingin memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat.
2.Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu yang tepat.
3.Penghormatan terhadap bayi dan plasenta.
4. Asumsi ibu bahwa dapat menjamin bayi mendapatkan volume darah optimal dan spesifik yang diperlukan bagi bayi.
5.Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh.
6.Mengurangi angka kesakitan bayi akibat infeksi nosokomial dari pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga plasenta telah lepas.
7.Alasan rohani atau emosional.
8.Tradisi budaya yang harus dilakukan.
9.Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat.
10.Kemungkinan menurunkan risiko infeksi (Lotus Birth memastikan sistem tertutup antara plasenta, tali pusat, dan bayi sehingga tidak ada luka terbuka)
11.Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka membutuhkan waktu untuk penyembuhan.sedangkan jika tidak ada luka, waktu penyembuhan akan minimal)

Manfaat dilakukannya Lotus Birth diantaranya :
1.Tali pusat dibiarkan sehingga memungkinkan terjadinya perpanjangan aliran darah ibu ke janin.
2.Oksigen vital yang melalui tali pusat dapat sampai ke bayi sebelum bayi benar-benar dapat mulai bernafas sendiri.
3.Lotus Birth juga memungkinkan bayi cepat untuk menangis segera setelah lahir.
4.Bayi tetap berada dekat ibu setelah kelahiran sehingga memungkinkan terjadinya waktu yang lebih lama untuk bounding attachment.
Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk terlepasnya tali pusat bila tali pusat dipotong segera, 9,56 hari, ketika berhenti berdenyut 7,16 hari, dan dibiarkan 3,75 hari.
Langkah dilakukannya Lotus Birth
Beberapa hal yang dilakukan dalam Lotus Birth diantaranya :
1.Bila bayi lahir, biarkan tali pusat utuh. Jika tali pusat berada sekitar leher bayi, cukup angkat  tali tersebut.
2.Tunggu lahirnya plasenta secara alami.
3.Ketika plasenta lahir, tempatkan pada mangkuk di dekat ibu..
4.Tunggu transfusi penuh darah dari pusat ke bayi sebelum menangani plasenta.
5.Hati-hati dalam mencuci plasenta yaitu dengan menggunakan air hangat dan tepuk-tepuk sampai kering.
6.Tempatkan plasenta di tempat yang kering.
7.Letakkan plasenta pada bahan yang menyerap seperti sebuah popok atau kain kemudian letakkan dalam tas plasenta.
8.Gendong bayi dan beri makan sesuai kebutuhannya.
9.Pakaikan bayi menggunakan pakaian yang longgar.
10.bayi dapat dimandikan seperti biasa, biarkan plasenta bersamanya.
11.Meminimalisir pergerakan bayi.
Sumber http://www.sarahjbuckley.com/ en.wikipedia.org/wiki/Lotus_birth http://www.lotusfertility.co


Minggu, 29 September 2013

hipotermi


MAKALAH KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL
PENATALAKSANAAN BAYI DENGAN HIPOTERMY
Dosen Pengampu : INDRAYANI HARAHAP, S.Kep, Ns

Di Susun Oleh :
Kelompok  X

1.      MUSLIMAH
2.      NIKE RUSPADILA
3.      NOFITRIANA

Kelas II A
AKADEMI KEBIDANAN KELUARGA BUNDA JAMBI
TAHUN AKADEMIK 2013/2014



KATA PENGANTAR

       Tiada kata yang lebih utama melainkan rasa syukur  kami panjatkan  kepada ALLAH SWT, atas kesempatan ,kesehatan dan inayahnya hingga makalah ini dapat kami selesaikan.
Dan tak lupa pula sholawat beserta salam kami kirimkan pada baginda nabi MUHAMMAD SAW,yang telah membawa umat pada zaman yang terang benderang.

      Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampu mata kuliah Kegawatdaruratan Matenal dan Neonatal yang telah memberikan petunjuk atas makalah ini,serta ucapan terima kasih kepada Kelompok X yang telah berpartisipasi untuk menyelesaikan pembuatan makalah ini.

      Makalah ini menjelas bagaimana mengenai Penatalaksanaan Bayi Dengan Hipotermy, serta menguraikan beberapa penjelasan mengenai Hipotermi.

     Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua,dan mohon maaf jika masih banyak terdapat kesalahan pada makalah ini maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca terutama dari Dosen Pengampu untuk penyempurnaan makalah ini agar lebih baik lagi.






     Jambi ,        Maret 2013





                                                                                                       Penulis




DAFTAR ISI
        KATA PENGANTAR
        BAB I PENDAHULUAN
1.1.         Latar Belakang masalah
1.2.         Rumusan Masalah
1.3.         Tujuan Makalah

BAB II PEMBAHASAN
 2.1  HIPOTERMI
2.1.1  Defenisi
2.1.4  Pencegahan dan Penanganan
BAB III PENUTUP
3.1        Kesimpulan
3.2        Saran
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
1.4.         Latar Belakang masalah
Hipotermi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada neonatal. Menurut laporan LB3 Dinkes Subdinbindal Yogyakarta 2003 angka kematian bayi sebesar 281 dari 23,53/1000 kelahiran hidup. Saat ini telah dikembangkan tindakan untuk mencegah hipotermi pada neonatal yaitu dengan menunda memandikan sampai suhu tubuh bayi stabi atau 6 jam setelah kelahiran bayi.
Hipotermi pada bayi baru lahir perlu mendapat perhatian dari para petugas kesehatan dan khususnya calon ibu yang akan memiliki anak. Mereka perlu memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara menangani bayi baru lahir dan memberlakukan bayi ketika bayi baru lahir.

1.5.         Rumusan Masalah
Penanganan yang salah terhadap bayi bisa menyebabkan dampak negatif bagi mereka. Sebagai contoh terjadinya hipotermi pada bayi disebabkan oleh kebiasaan/perilaku yang salah seperti mengeringkan dan membersihkan tubuh bayi menunggu setelah plasenta lahir, memandikan bayi dilakukan segera setelah lahir, membersihkan lemak bayi segera setelah lahir, memercikkan air hangat / air dingin / air kembang / minyak wangi pada bayi baru lahir yang tidak menangis (untuk merangsang pernafasan) , mengosok tubuh bayi dengan minyak kayu putih / obat gosok , bayi baru lahir tidak segera didekapkan / dipisah /tidak segera disusui oleh ibunya. Semua kebiasaan diatas justru mengakibatkan suhu tubuh bayi mengalami penurunan.Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir. Oleh karena itu para petugas kesehatan harus melakukan tindakan



pencegahan terjadinya hipotermi di tingkat pelayanan dasar. Sebaiknya para petugas kesehatan memiliki penguasaan dalam mencegah dan menangani hipotermi pada bayi baru lahir untuk memberikan dampak positif yang sangat berarti dalam mencegah terjadinya kematian. Begitu pula dengan ibu, penolong persalinan, dan keluarga di rumah yang bisa dengan mudah mencegah terjadinya hipotermi.

1.6.         Tujuan Makalah
a.       Agar mahasiswa mampu menjelaskan dan mengidentifikasi suatu proses terjadinya Hipotermi pada bayi .
b.      Agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan dan melakukan penatalaksanaan yang sesuai pada Hipotermi.
c.       Agar mahasiswa mampu melakukan tindakan yang sesuai dengan kewenangan dan berpartisifasi dalam menekan AKB (Angka Kematian Bayi)












BAB II
PEMBAHASAN
2.1 HIPOTERMI
2.1.1 Defenisi
Hiportemi adalah bayi dengan suhu badan dibawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah36,5-37’5⁰ c (suhu ketiak). Gejala awal hipotermi apabila suhu <36⁰ c atau kedua kaki dan tangan teraba dingin. bila seluruh tubuh bayi terasa dingin maka bayi sudah mengalami sedang (suhu 32-36⁰ c).  Disebut hipotermi berat bila suhu <32⁰c, diperlukan termometer ukuran rendah (lown reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25⁰c( yayasan bina pustaka sarwono  prawirahardjo, 2006) . disamping sebagai suatu gajala , hipotermi merupakan awal sandra M.T . (1997) bahwa hipotermi yaitu kondisi di mana suhu inti tubuh turun sampai dibawah 35⁰c. (Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita, hal 283: Ai Yeyeh Rukiyah, S.Si.T DKK)
Hipotermi adalah kondisi ketika ekstremitas bayi terasa dingin dan sering menangis karena produksi panas yang kurang akibat sirkulasi yang masih belum sempurna,respirasi yang masih lemah dan konsumsi oksigen yang rendah, inaktifitas otot, serta asupan makanan yang rendah. (Asuhan Neonatus Bayi dan Balita, hal.19 : Rochman K.M.,S.Pd,SKM .DKK)
2.1.2 Etiologi
 Penyebab terjadinya hipotermi pada bayi yaitu : jaringan lemak subkutan tipis , perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar , cadangan glikogen dan brown fat sedikit , BBL (bayi baru lahir ) tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan , kurang ya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang beresiko tinggi mengalami hipotermi .
Mekanisme hilangnya panas pada bayi baru lahir yaitu dengan:
a.       Radiasi :dari objek ke panas bayi , contoh : timbangan bayi dingin tanpa alas
b.      evaporasi: karena penguapan cairan yang melekat pada kulit , contoh : air ketuban pada tubuh bayi  baru lahir , tidak dapat  dikeringkan.
c.       konduksi: panas tubuh diambil oleh suatu permukaan yang melekat di tubuh , contoh: pakain bayi yang basah tidak cepat di ganti.
d.      konveksi : penguapan dari tubuh ke udara, contoh: angin di sekitar tubuh bayi baru lahir . (asuhan neonatus bayi dan balit, hal 284)
2.1.3 akibat-akibat hipotermi
akibat –akibat yang ditimbulkan oleh hipotrmi akibat yang bisa ditimbulkan oleh yaitu : hipoglikemia sidosis metabolisme anaerob , kebutuhan oksigen yang meningkat sehingga pertumbuhan terganggu , gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal yang menyertai hipotermi berat , shock, apnea,perdarahan intra ventricular.
2.1.4 pencegahan dan penanganan
Hipotermi pemberian panas yang mendadak , berbahaya karena dapat terjadi apnea sehingga sehingga di rekomendasikan penghangatan 0,5 -1⁰c tiap jam ( pada bayi <1000 gram penghangatan maksimal 0,6⁰c) .(indarso ,f 2001). Alat-alat inkubator untuk bayi < 1000 gram , sebaiknya diletakkan dalam inkubator .bayi –bayi tersebut dapat tahan terhadap suhu lingkungan 30⁰c .radiant warner adalah alat yang digunakan untuk bayi yang belum stabil atau untuk tindakan –tindakan . dapat menggunakan servo controle ( dengan menggunakan probe untuk kulit ) atau non servo controle ( dengan mengatur suhu yang dibutuhkan secara manual). (asuhan neonatus bayi dan balita ,hal 284-285).



2.1.5 penatalaksanaan neonatus resiko tinggi
Mempertahankan suhu tubuh untuk mencegah hipotermi menurut indarso, f(2001) menyatakan bahwa untuk mempertahankan suhu tubuh bayi dalam mencegah hipotermi adalah:
1)      Menyiapkan tempat melahirkan yang hangat , kering dan bersih .
2)      Mengeringkan tubuh bayi yang baru lahir dengan handuk yang kering dan bersih
3)      Menjaga bayi hangat dengan cara mendekap bayi di dada ibu dengan kedua ya diselimuti ( metode kangguru)
4)      Memberi ASI sedini mungkin segera setelah melahirkan agar dapat merangsan pooting reflex dan bayi memperoleh kalori dengan:1) menyusui bayi ; 2) pada bayi kurang bulan yang belum bisa menetek ASI diberikan dengan sendok dan pipet ;3) selama memberikan ASI bayi dalam dekapan ibu agar tetap hangat.
5)      Mempertahan kan bayi tetap hangat selama dalam perjalanan pada waktu rujukan.
6)      Memberikan penghangatan pada bayi baru lahir secara mandiri.
7)      Melatih semua orang yang terlibat dalam pertolongan persalinan. Menunda memandikan bayi lahir sampai suhu tubuh normal untuk mencegah terjadinya seranagan dingin, ibu atau keluarga dan penolong persalinan harus menunda memandikan bayi.
Bayi yang mengalami hipotermi biasanya mudah sekali meninggal. Tindakan yang harus dilakukan adalah segera menghangat bayi dalam inkubator atau melalui penyinaran lampu. Cara lain yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan setiap orang ialah metode dekapan ibunya dan keduanya diselimuti agar bayi senantiasa hangat.
 Bila tubuh bayi masih dingin , gunakan selimut atau kain hangat yang diseterika terlebih dahuku yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan ibu.lakukan berulang kali sampai tubuh bayi hangat. Tidak boleh memakai buli-buli panas,bahaya luka bakar. Biasanya bayi hipotermi  menderita hipoglikemia sehingga bayi harus di beri ASI sedikit-sedikit dan sering mungkin. Bila bayi tidak dapat menghisap beri infus glukosa 10 % sebanyak 60-80ml/ kg per hari.
Hipotermi didefinisikan sebagai nilai suhu dibawah 36⁰c ( morris 1994). Ketika suhu tubuh dibawah level ini, bayi ada dalam resiko “ cold stress”. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi seperti peningkatan pemakaian O2 ,produksi asm laktat ,apnoea, penurunan koagluasi  penurunan  darah dan yang paling sering kita temui adalah hypoglikemia. Pada bayi prenterm ,” cold stress” dapat menyebabkan penurunan pengeluaran dan sintesis surfaktan. ( midewiferi), membiarkan bayi dalam keadaan dingin, meningkatkan kematian dam morbiditas. Setelah lahir, suhu tubuh bayi menurun dengan cepat. Suhu tubuh bayi yang sehat akan mencoba menyesuaikan temperatur denagan batas yang normal. ( asuhan neonatus bayi dan anak balita, hal 285-286)
2.1.6  penyebab hipotermi
Hipotermi pada bayi baru lahir dapat dicegah ,jika seorang bidan dapat memprediksi dengan melihat beberapa penyebab antara lain : asphyksia yang hebat, rsusitasi yang ekstensive ,lambat sewaktu mengeringkan bayi, lebih sering terjadi hipotermi dari pada hipetemia , pada bayi prematur atau bayi kecil yang memiliki cadanagan glukosa yang sedikit.
2.1.7 ciri-ciri hipotermi pada bayi baru lahir atau neonatus
Beberapa ciri jika seorang bayi mengalami hipotermi antara lain : bayi menggigil, walau biasanya ciri ini tidak mudah terlihat  pada bayi kecil , kulit anak terlihat belang-belang , merah campur putih atau timbul bercak-bercak ,anak terlihat apatis atau tetap saja dibiarkan  , maka anak sebut tersebut bisa berhenti nafas , puncaknya , anak bisa terkena hipotermi dan meninggal.
2.1.8  gejala hipotermia bayi pada bayi baru lahir
Gejala hipotermia pada bayi baru lahir :  bayi tidak mau minum atau menetek, bayi tampak lesu atau mengantuk saja , tubuh bayi teraba dingin , dalam keadaan berat , denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras ( sklerema).
-tanda –tanda hipotermia sedang  (stress dingin): aktifitas berkurang ,letargis ,tangisan lemah , kulit bewarna tidak rata (cutis marmorata), kemampuan menagis lemah , kaki teraba dingin.
-tanda-tanda hipotermia berat (cedera dingin ): sama dengan hipotermia sedang , bibir dan kuku kebiruan ,pernapasan lambat, pernapasa tidak teratur , bunyi jantung lambat , selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolic , tanda –tanda stadium lanjut hipotermia , muka, ujung kaki dan tangan bewarna merah terang , bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengerasmerah  dan timbul oedema terutama pada punggung, kaki dan tangan( sklerema).
2.1.9 penanganan hipotermi bayi baru lahir
Bayi yang mengalami hipotermia biasanya mudah sekali meninngal. Tindakan yang harus dilakukan adalah segera menghangatkan bayi di dalam inkubator atau menilai penyinaran lampu.
Cara lain yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan oleh setiap orang adalah menghangatkan bayi melalui panas tubuh ibu. Bayi diletakkan telungkup di dada ibu agar terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi. Untuk menjaga bayi tetap hangat , tubuh ibu dan bayi harus berada di dalam satu pakain (merupakan teknologi tept guna baru ) disebut sebagai metode kangguru. Sebaiknya ibu menggunakan pakain longgar berkancing depan.
Bila tubuh bayi masih dingin, gunakan selimut atau kain hangat yang disetrika terlebih dahulu, yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan ibu. Lakukanlah berulang kali sampai tubuh bayi hangat.
Biasanya bayi hipotermi menderita hpoglikemia, sehingga bayi harus diberi ASI sedikit-sedikit sesering mungkin. Bila bayi tidak mengisap, diberi infus glukosa 10% sebanyak 60-80 ml/ kg per hari. (asuhan neonatus bayi dan balita, hal : 290, ai yeyeh rukiyah S.Si.)






BAB III
                                                                    PENUTUP
3.3        Kesimpulan
Bayi dengan suhu badan di bawah normal biasa di sebut dengan bayi hipotermi. Hipotermi ini biasanya terjadi pada bayi yang baru saja lahir. Pada bayi neonatus suhu normalnya adalah 36,5 – 37,5 derajat Celsius (suhu ketiak). Apa bila suhu < 36 derajat Celsius, kedua kaki dan tangan terasa dingin kita mesti mewaspadainya karena ini merupakan gejala awal hipotermi.
Pada saat suhu cuaca dingin, suhu badan bayi cendrung menurun. Hal ini lah yang memungkinkan terjadinya hipotermi. Langkah awal yang harus kita lakukan kalau bayi terserang hipotermi adalah mengenali gejala-gejala yang terjadi dan segera lakukan pertolongan pertama dengan cara menghangatkan tubuh si bayi, dekaplah tubuh bayi ke dada si ibu dan beri selimut serta topi pada bayi dan dan atur temperature ruangan bayi.

3.2.            Saran
1.   Lakukan  upaya pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir dilakukan dengan benar mengeringkan dan melakukan kontak kulit langsung dengan ibu.
2.    Jaga suhu ruangan selama dan setelah kelahiran bayi karna sangat besar pengaruhnya pada bayi baru lahir yang dapat menyebabkan hipotermi.
3.   cegah hipotermi dengan mempertahankan tubuh bayi tetap hangat melalui metode ”kanguru” dan memenuhi kebutuhan kalorinya dengan memberi ASI sedini mungkin (30 menit setelah bayi lahir).





DAFTAR PUSTAKA
Ai Yeyeh.R  & Lia Yulianti, 2010. Asuhan Neonatus Bayi & Anak Balita, Jakarta: TIM
Rochman, DKK, 2012. Asuhan Neonatus Bayi &  Balita, Jakarta: EGC