Tampilkan postingan dengan label Persalinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persalinan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Oktober 2013

Kondom Kateter


PENGGUNAAN KONDOM KATETER PADA PENANGANAN PERDARAHAN POSTPARTUM

15.21, by nofitriana

PENDAHULUAN
Perdarahan pasca persalinan ( Postpartum Hemorrhage = PPH ) sampai saat ini masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal baik di Negara maju maupun di Negara berkembang. 

Kelahiran bayi adalah suatu proses normal, tetapi adakalanya ditemui kejadian morbiditas dan mortalitas maternal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi pada kala ketiga persalinan. Kematian maternal adalah suatu tragedi dan merupakan kerugian besar bagi masyarakat dan suatu bangsa. Sekitar setengah juta wanita mati tiap tahun akibat proses kelahiran bayi dan kehamilan. Sekitar seperempat di antara mereka mengalami komplikasi yang terjadi pada kala ketiga persalinan. Di Inggris risiko kematian maternal akibat postpartum hemorrhage adalah satu per 100.000 kelahiran, sedangkan di negara berkembang adalah satu per 1000 kelahiran. Di Malaysia dari tahun 1995-1996 menunjukkan bahwa postpartum hemorrhage sebagai penyebab utama dari kematian maternal. Kala ketiga persalinan digambarkan sebagai suatu proses berlanjut yang mulai dengan lahirnya janin dan berakhir dengan lahirnya plasenta. Umumnya sekitar 5 sampai 10 beberapa menit, tetapi tidak sampai melebihi dari 30 menit.

Angka kematian maternal ( Maternal Mortality Rate = MMR ) di Amerika Serikat pada tahun 1995 sebanyak 7,1/100.000 kelahiran hidup. Penyebab terbanyak dari MMR tersebut adalah perdarahan, emboli, hipertensi dalam kehamilan, kardiomiopati serta karena komplikasi anastesi. Sedang di Amerika Tengah, yaitu di Meksiko dan sekitarnya, MMR terrendah adalah di Kostarika sebanyak 29/100.000 dan tertinggi di Guatemala yaitu 190/100.000. Penyebab kematian terbanyak juga adalah perdarahan. Sedang di Asia Tenggara Negara kita masih menduduki angka tertinggi yaitu sebanyak 307/100.000 ( SDKI tahun 1998-2002 ), penyebab kematian tertinggi juga sama, yaitu perdarahan ( 28% ) disusul Preeklamsia-eklamsia dan infeksi masing-masing sebanyak 13% dan 10%. Secara keseluruhan di seluruh dunia ini kematian maternal sebanyak 600.000 pertahun dan yang disebabkan oleh PPH sebanyak 125.000 wanita pertahun.

Penanganan ada dua bagian, yaitu suportif dengan perbaikan keadaan umum, penambahan cairan, darah serta komponen-komponennya. Yang kedua adalah penanganan kausatif, yaitu melakukan identifikasi penyebab perdarahan dan usaha untuk menghentikannya. Ada beberapa cara untuk menghentikan perdarahan yaitu, pertama: pemberian uterotonika dengan oksitosin, metil ergometrin atau prostaglandin. Kedua: hemostasis secara mekanis dengan manual atau digital plasenta, kuret sisa plasenta, kompresi manual ataupun packing. Ketiga: dengan cara pembedahan, yaitu penjahitan laserasi, ligasi pembuluh darah ataupun dilakukan histerektomi.

PATOFISIOLOGI PPH
Perdarahan postpartum / Postpartum Hemorrhage ( PPH ) terjadi karena adanya perdarahan yang banyak yang pada umumnya berasal dari tempat implantasi plasenta atau adanya laserasi jalan lahir. Penyebab PPH terbanyak adalah atonia uteri, kelainan imlantasi plasenta dan laserasi jalan lahir. Pada PPH yang penting adalah menentukan etiologinya dan memberikan penanganan yang sesuai. Walaupun pengetahuan tentang penyebab perdarahan pasca persalinan telah banyak diketahui dan darah sudah banyak tersedia tetapi kematian yang disebabkan oleh PPH ini masih menduduki tempat yang tinggi baik di Negara maju maupun di Negara-negara berkembang.

PPH dapat terjadi langsung yang disebut PPH primer / dini dan dapat pula terjadi setelah 24 jam kemudian yang disebut PPH sekunder / lambat. Definisi PPH tergantung dari jenis persalinan yang terjadi. Pada persalinan pervaginam, PPH didefinisikan sebagai terjadinya perdarahan > 500 cc, sedangkan pada seksio sesarea sebanyak > 1000 cc. PPH seringkali tidak dilaporkan, karena penilaian jumlah perdarahan cenderung under-estimated, terutama bila keadaan ibu pasca salin dalam keadaan baik. Karena sukar untuk menilai berapa banyak insidens PPH yang sebenarnya, American College of Obstetricians and Gynecologist yaitu menetapkan kriteria penurunan > 10% dari kadar hematokrit sebelum dan sesudah persalinan. secara garis besar PPH mengenai 4 – 6% dari seluruh persalinan.

Dengan adanya peningkatan jumlah volume plasma dan sel darah merah yang meningkat pada wanita hamil ( 30 – 50% ) serta adanya peningkatan cardiac output, maka dibandingkan wanita tidak hamil, wanita hamil lebih mudah berkompensasi terhadap adanya perdarahan dengan cara meningkatkan tahanan vaskuler perifer sehingga tekanan darah tidak menurun dan dapat menjamin kelancaran perfusi organ. Baru setelah kemampuan peningkatan vaskuler terlampaui maka terjadilah penurunan tekanan darah, cardiac output dan perfusi organ sehingga menimbulkan gejala klinis dari PPH.

Mekanisme penghentian perdarahan pasca persalinan berbeda dengan tempat lain dimana faktor vasospasme dan pembekuan darah sangat penting, pada perdarahan pasca persalinan penghentian perdarahan pada bekas implantasi plasenta terutama karena adanya kontraksi dan retraksi miometrium sehingga menyempitkan dan membuntu lumen pembuluh darah. Adanya sisa plasenta atau bekuan darah dalam jumlah yang banyak dapat mengganggu efektivitas kontraksi dan retraksi miometrium sehingga dapat menyebabkan perdarahan tidak berhenti. Kontraksi dan retraksi miometrium yang kurang baik dapat mengakibatkan perdarahan walaupun sistem pembekuan darahnya normal, sebaliknya walaupun sistem pembekuan darah abnormal asalkan kontraksi dan retraksi miometrium baik akan menghentikan perdarahan.

FAKTOR PREDISPOSISI
PERDARAHAN DARI TEMPAT IMPLANTASI PLASENTA
KONTRAKSI HIPOTONIK = ATONIA UTERI
• Obat-obat anastesi
• Uterus overdistensi – janin besar, hamil multiple, hidramnion
• Persalinan lama
• Persalinan terlalu cepat
• Setelah induksi / akselerasi persalinan
• Multi-Paritas
• Riwayat HPP

TERTINGGALNYA JARINGAN PLASENTA
• Adanya sisa kotiledon atau adanya lobus suksenturiata
• Kelainan implantasi – akreta, inkreta, perkreta

PERDARAHAN JALAN LAHIR
• Episiotomi yang lebar atau meluas ( ekstensi )
• Laserasi perineum, vagina, atau serviks
• Ruptura uteri

GANGGUAN KOAGULASI
Atonia uteri merupakan penyebab PPH yang terbanyak. Walau tanpa ada faktor predisposisi, atonia uteri dapat terjadi pula pada setiap persalinan, sehingga perlu selalu dilakukan observasi dan monitor kontraksi uterus pasca persalinan. Diagnosis atonia uteri dapat dibedakan secara cepat dari laserasi jalan lahir berdasarkan kontraksi uterusnya, bila kontraksi baik perdarahan banyak maka kemungkinan besar ada laserasi jalan lahir, sedang bila kontraksi kurang baik maka atonia uteri. Atonia uteri dapat pula bersamaan laserasi jalan yang merupakan penyebabnya, sehingga pemeriksaan jalan lahir, yaitu vagina, serviks dan uterus harus dikerjakan pada setiap PPH.


PENANGANAN PPH
Tujuan utama penanganan PPH adalah (1) mengembalikan volume darah dan mempertahankan oksigenasi (2) menghentikan perdarahan dengan menangani penyebab PPH. Idealnya stabilisasi dilakukan lebih dulu sebelum tindakan definitif dikerjakan, tetapi hal ini kadang-kadang tidak mungkin dikerjakan sendiri-sendiri melainkan seringkali dikerjakan perbaikan keadaan umum ( resusitasi ) sambil dilakukan tindakan untuk menghentikan perdarahan tersebut.
Pada saat awal resusitasi cairan juga diambil sample darahnya untuk diperiksakan laboratorium sederhana dahulu, yaitu paling tidak kadar Hemoglobin, Hematokrit, Lekosit, Trombosit, Faal Pembeku Darah atau dikerjakan pemeriksaan Waktu Pembekuan Darah dan Waktu Perdarahan secara langsung.

Oleh karena penyebab PPH terbanyak adalah karena atonia uteri, maka langkah pertama dari penanganannya adalah dengan pemijatan uterus, kompresi bimanual, tampon utero-vaginal, sementara obat uterotonika tetap diberikan. Bila penanganan dengan non operatif ini tidak berhasil baru dilakukan penanganan secara operatif secara laparotomi pemakaian metode B-Lynch, pengikatan Arteri Uterina, Ovarika atau Hipogastrika ( Iliaka Interna ). Bila dengan cara ini juga belum berhasil menghentikan perdarahan, dilakukan Histerektomi.
Pemberian tampon ( packing ) uterovagina dengan kassa gulung dapat merugikan karena memerlukan waktu untuk pemasangannya, dapat menyebabkan perdarahan yang tersembunyi atau bila ada perembesan berarti banyak darah yang sudah terserab di tampon tersebut sebelumnya dan dapat menyebabkan infeksi. Tetapi dapat pula menguntungkan bila dengan tampon tersebut perdarahan bisa berhenti sehingga tidak diperlukan tindakan operatif atau tampon digunakan untuk menurunkan perdarahan sementara sambil menunggu penanganan operatif. Alternatif dari pemberian tampon selain dengan kassa, juga dipakai beberapa cara yaitu : dengan menggunakan Sengstaken-Blakemore tube, Rusch urologic hydrostatic balloon catheter ( Folley catheter ) atau SOS Bakri tamponade balloon catheter.

Pada tahun 2003 Sayeba Akhter dkk mengajukan alternatif baru dengan pemasangan kondom yang diikatkan pada kateter. Dari penelitiannya disebutkan angka keberhasilannya 100% ( 23 berhasil dari 23 PPH ), kondom dilepas 24 – 48 jam kemudian dan tidak didapatkan komplikasi yang berat. Indikasi pemasangan kondom sebagai tampon tersebut adalah untuk PPH dengan penyebab Atonia Uteri. Cara ini kemudian disebut dengan Metode Sayeba. Metode ini digunakan sebagai alternatif penanganan HPP terutama sambil menunggu perbaikan keadaan umum, atau rujukan.

Cara pemasangan tampon kondom menurut Metode Sayeba adalah secara aseptik kondom yang telah diikatkan pada kateter dimasukkan kedalam cavum uteri. Kondom diisi dengan cairan garam fisiologis sebanyak 250-500 cc sesuai kebutuhan. Dilakukan observasi perdarahan dan pengisian kondom dihentikan ketika perdarahan sudah berkurang. Untuk menjaga kondom agar tetap di cavum uteri, dipasang tampon kasa gulung di vagina. Bila perdarahan berlanjut tampon kassa akan basah dan darah keluar dari introitus vagina. Kontraktilitas uterus dijaga dengan pemberian drip oksitosin paling tidak sampai dengan 6 jam kemudian. Diberikan antibiotika tripel, Amoksisilin, Metronidazol dan Gentamisin. Kondom kateter dilepas 24 – 48 jam kemudian, pada kasus dengan perdarahan berat kondom dapat dipertahankan lebih lama.

Adjar Wibowo. Penggunaan kondom kateter pada penanganan perdarahan post partum. Divisi Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Unlam/RSUD ulin Banjarmasi

Sabtu, 28 September 2013

Mengenali Persalinan “Gentle Birth”

Beberapa metode persalinan yang berkembang pada saat modern ini sangat beragam diantaranya penggunaan media air atau dikenal dengan water birth yang dapat mengurangi resiko sakit saat persalinan. Selain itu adapula gentle birth dimana persalinan yang dilakukan lebih tenang, nyaman, lembut dan membangun unsur alam di dalam tubuh manusia. Baik ibu hamil yang sedang melangsungkan persalinan ataupun pendamping yang harus bersikap tenang. Ketenangan yang hadir ditengah persalinan anda akan membantu dalam menciptakan suasana relaks selama persalinan berlangsung. Ketika melakukan gentle birth anda harus mempersiapkan beberapa pendukung di dalam diri anda diantaranya adalah kesiapan fisik dan mental. Kesiapan fisik dapat anda persiapkan selama kehamilan anda dengan melakukan beberapa latihan diantaranya adalah latihan pernafasan, olahraga yang disesuaikan dengan ibu hamil dan juga konsumsi makanan bernutrisi dalam mencukupi kebutuhan harian anda. Siapkan pula mental anda dengan melakukan hypnobrithing, beberapa meditasi dan ketenangan jiwa.
Gentle birth tidak saja berhubungan dengan water birth tapi juga persalinan yang umum dilakukan di tempat tidur. Hal yang harus anda perhatikan dalam gentle birth adalah kualifikasi dan pengetahuan penolong dalam persalinan anda. Adapun beberapa keuntungan dalam melakukan gentle birth bagi ibu hamil adalah merasakan lebih puas sehingga tidak mengalami trauma selama persalinan berlangsung. Hal ini berhubungan dengan persalinan yang tenang dan bebas cemas sehingga memegang kendali pada mental anda. Mengurangi resiko post partum blues pada ibu dan juga melancarkan asi karena hormon yang memicu asi bekerja dengan baik. Sedangkan keuntungan untuk bayi anda melakukan gentle birth adalah menghilangkan trauma secara psikis pada bayi dan juga dapat merasakan ketenangan. Selain itu pola pengasuh bagi anda yang mengalami metode gentle birth akan lebih cepat pulih baik dari sisi fisik maupun mental sehingga lebih siap mengasuh bayi anda. Peranan yang penting dalam melakukan gentle birth adalah persiapan yang matang baik kesiapan fisik dan mental ibu hamil dan juga penolong didukung dengan lingkungan yang menenangkan dan ketenangan. Persiapkan pula pengaturan napas ketika melahirkan dan dan juga yang tidak kalah penting adalah Inisiasi Menyusui.
Dini (IMD) dan Rooming In. Perkembangan gentle birth yang cukup banyak dilakukan di Indonesia adalah waterbirth (persalinan di dalam air) dan otohipnosis (terapi relaksasi). Meskipun demikian anda harus tetap memperhatikan bantuan medis baik dari bidan atau dokter kandungan yang mendukung proses persalinan menggunakan waterbirth ataupun otohipnosis. Pro dan Kontra yang terjadi menanggapi perkembangan metode persalinan gentle birth, salah satunya dunia kedokteran masih belum dapat menerima apabila dilakukan tanpa pengawasan tenaga medis, bahkan beberapa dokter kandungan dan bidan kurang merekomendasikan melakukan gentle birth apabila tidak melalui pengawasan tenaga medis. Pertimbangan selanjutnya adalah kesehatan ibu hamil sebelum persalinan harus diperiksa untuk menghindari komplikasi yang terjadi. Meskipun demikian badan dunia WHO menggagap bahwa gentle birth aman dengan syarat ibu hamil yang akan melakukan metode gentle birth kehamilan sebelumnya dan selama kehamilan tidak mengalami komplikasi yang beresiko baik pada ibu hamil ataupun pada bayi.
Dengan demikian gentle birth menitikberatkan pada persalinan alami yang tenang dan memanfaatkan unsur alami dari tubuh tanpa intervensi medis. Meskipun demikian beberapa kondisi harus anda perhatikan terutama kondisi kesehatan ibu hamil tanpa resiko komplikasi selama kehamilan yang akan membahayakan ibu dan bayi.


Sumber : Mengenali Persalinan “Gentle Birth” http://bidanku.com/index.php?/mengenali-persalinan-gentle-birth#ixzz2gCmWftFv
Follow us: @bidanku on Twitter | bidanku on Facebook